Pergelaran

Opera Anak Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala, Stop Bullying

Sanggar Tari Raff Dance menggelar opera anak produksi ke-4 di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur pada Sabtu, 7 Januari 2023 dengan judul “Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala”. Sanggar Tari Raff Dance Company merupakan sanggar tari yang yang didirikan pada tahun 1994 oleh Drs. Arif Rofiq. M.Hum., seorang seniman yang juga merangkap sebagai Widya Iswara Ahli Madya yang biasa bertugas di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur.

Sutradara merangkap pemain yang memerankan tokoh dalang, Drs. Arif Rofiq, M.Hum. pada adegan pembuka (Foto dok. Arief Kopral)

Sanggar Tari Raff  Dance  Company  bermarkas  di Perum  Taman  Surya  Agung  N9/10  Wage,  Sidoarjo. Sementara Dalam menjalankan aktifitasnya Raff Dance Company memiliki dua studio yang terletak di dua lokasi yaitu bertempat di Mall City of Tomorrow (CITO) bundaran Waru dan di Taman Budaya Jawa Timur Jalan Gentengkali no. 85 Surabaya. Raff Dance Company di samping tempat pelatihan seni tradisional juga memberikan pelatihan jenis seni kontemporer terutama tari. Beragam jenis tari kreasi baru baik untuk anak dan remaja telah diciptakan dan diajarkan kepada para siswanya.

“Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala” merupakan opera anak produksi ke-4 yang berhasil dipentaskan oleh Raff Dance dengan melibatkan hampir seluruh siswanya mulai tingkat Taman Kanak-Kanak sampai SMA menjadi sebuah pergelaran yang apik dan menarik untuk diapresiasi. Pada pertunjukan ini pesan moral yakni “Stop Bullying” mudah sekali dicerna dan begitu kuat sekali disampaikan. Bullying sendiri merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang maknanya lebih merujuk pada bentuk penindasan, perundungan, perusakan, atau pengintimidasian terhadap seseorang. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.

Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu; mungkin atas dasar ras, agama, gender, orientasi seksual, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosi, fisik, verbal, dan media sosial. Kebiasaan penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, misalnya dari mulai di pemerintahan, organisasi, sekolah, tempat kerja, keluarga, dan lingkungan.

Tindakan bullying digambarkan dalam lakon “Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala” menimpa tokoh Si Kuning yang di bully oleh kakak-kakak tirinya karena dianggap tidak pantas mengikuti sebuah kompetisi pemilihan miss univers dengan cara dijatuhkan mentalnya dengan maksud menggagalkan rencana si Kuning mengikuti kompetisi. Termasuk juga kakak-kakak si Kuning yakni Si Biru, Merah dan Hijau yang dibully dan dilecehkan oleh tokoh mister Kangkang dengan bentuk pelecahan secara seksual menjadi pesan moral yang ingin disampaikan dalam cerita ini agar tidak ditiru oleh siapapun. Ditengah pergelaran ketika adegan bullying selesai disisipi dengan pesan-pesan soal tindakan bullying yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapapun melalui talkshow dengan menghadirkan Dra. Iva Hasanah Direktur Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan (KPS2K) dan Dra. Restu Novi Widiani Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jatim.

Si Kuning (kanan) dan ibu Tiri (kiri) (Foto dok. Arief Kopral)

Cerita “Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala” sebenarnya merupakan adaptasi dari cerita rakyat Ande-ande Lumut Yang merupakan petikan dari cerita Panji yang sangat populer sejak zaman Majapahit sampai sekarang. Namun dikemas dengan garap cerita yang mudah dipahami oleh anak-anak masa kini.  Adegan cerita diawali dengan seorang gadis yang tersesat di hutan, ditengah ketakutannya muncul kelinci yang menghibur dan memberi semangat pada si gadis agar tidak takut karena sendiri. Gadis tersebut bernama si Kuning.

Selang berapa lama si Kuning tertidur dan bermimpi bertemu bidadari yang mengingatkan kalau butuh pertolongan agar memanggill si kakek dengan cara ambil cermin yang berada di pohon. Cermin tersebut disimpannya sebagai pusaka bila terjadi marabahaya yang menimpa dirinya. Kemudian datanglah wanita yang menawari si Kuning untuk mengangkatnya menjadi anak untuk menemani ketiga anaknya yang lain.

Akhirnya si Kuning dibawa ke desa Dadapan dan bertemu Merah, Hijau dan Biru. Si Kuning mendapat perlakuan kurang menyenangkan dan sering dikerjain saudari tirinya yang jahat dan punya sifat pemalas dan sombong. Si Kuning sering dibully oleh ketiga saudara tirinya. Ketika si Kuning sedang sendirian dan mengalami kesedihan datanglah lebah dan kelinci untuk menghibur.

Seiring dengan berjalannya waktu terdengarlah pengumuman pemilihan sayembara Miss Universe di Negeri Jenggala. Sayembara ini sampai pula ke desa Dadapan. Begitu girangnya Merah, Hijau dan Biru menyambut pengumuman itu. Mereka sangat yakin merekalah nantinya yang akan menang, sedangkan Kuning ingin ikut tapi di halangi termasuk oleh ibu tirinya sendiri. Namun si Kuning tetap bersikukuh mengikuti pemilihan tersebut walau dipersulit.

Dra. Iva Hasanah Direktur Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan/KPS2K (kiri) dan Dra. Restu Novi Widiani Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan/DP3AK Jatim (tengah) dalam sebuah talkshow yang disisipkan pada tengah adegan cerita untuk memperjelas makna bullying dan akibat yang ditimbulkannya (Foto dok. Arief Kopral).

Dengan pedenya ketiga saudara tiri Kuning berangkat mengikuti Miss Univers di Kerajaan Jenggala, termasuk Kuning yang menyusul mengikuti sayembara tersebut. Ada ujian berat yang harus dihadapi ketika akan menuju tempat sayembara dengan menyebrangi sungai. Ketiga perempuan saudara tiri Kuning sudah berada dipinggir sungai yang dijaga mister Kangkang. Berlagak ingin menolong padahal justru memanfaatkan para perempuan yang tidak waspada tersebut dengan dilecehkan yakni diraba-raba tubuh sensitifnya. Alhasil ketiganya berhasil disebrangkan tetapi semuanya mengalami pelecehan seksual.

Berbeda yang dilakukan Kuning sewaktu mau menyebrang juga bertemu Kangkang dan sama menawarkan pertolongan cuma Si Kuning selalu mawas diri dan waspada. Tanpa diduga dia ketemu masyarakat yang demo akan pelecehan seksual dan minta diusut tuntas. Sebelum menyebrang Si Kuning ingat pesan Kakek sakti dengan cerminnya. Atas petunjuknya cermin pun dilempar ke sungai sehingga hilang airnya seketika itu pula Mister Kangkang lenyap. Saat pemilihan berlangsung ketiga saudaranya dinyatakan kalah karena sudah ternoda. Sementara pemenangnya adalah Si Kuning.

Menurut sutradara Arif Rofiq, keprihatinan yang sangat tentang situasi saat ini dimana banyak terjadi bullying baik di dunia nyata maupun di dunia maya menginspirasinya untuk memunculkan karya opera anak dengan judul “Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala” ini. Makna pergelaran ini tidak hanya mengisi ruang-ruang publik untuk bermain anak tapi  juga ruang-ruang rohani dengan begitu mereka tahu cara pendekatan dan cara bermain dengan seseorang yang belum dikenalnya. Diharapkan anak-anak kecil akan bertanya ke orang tuanya tentang apa sih pelecehan hingga bullying itu, sehingga mereka memahami. Kedepannya diharapkan pula akan tercipta suasana ramah terhadap anak terutama di Kota Surabaya ini.

Foto bersama seluruh artis dan tamu VIP (Foto dok. Arief Kopral)

Opera anak Si Kuning Miss Univers Negeri Jenggala mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dan tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tokoh si Merah, Hijau, dan Biru dapat dianalogikan bahwa mereka adalah gadis-gadis cantik yang tidak pandai menjaga dirinya, karena begitu gampang menerima tawaran mister Kangkang yang sebelumnya tidak dikenal. Akibatnya, mereka tidak terpilih menjadi permaisuri. Dari sini dapat dipetik pelajaran untuk tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Pada tokoh si Kuning dapat digambarkan bahwa dia seorang wanita yang sabar dan tidak gampang  tergoda dengan tawaran seseorang yang tidak dikenalnya. Berkat kesabaran dan kehati-hatiannya si Kuning justru dapat mencapai apa yang menjadi cita-citanya. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.