Pergelaran

Pergelaran Wayang Panji Lakon “Dalang Gambuh Asmarantaka”

Taman Budaya Jawa Timur menggelar Pertunjukan Wayang Panji dengan judul “Dalang Gambuh Asmarantaka” di Gedung Kesenian Cak Durasim pada Jumat, 5 Desember 2025. Acara dibuka oleh Kepala Taman Budaya Jawa Timur Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M. disasaksikan penonton yang memenuhi Gedung Kesenian berkapasitas 412 kursi. Konsep pertunjukan lebih kepada perpaduan antara wayang orang dan ketoprak. Ada gerakan tari tapi tak sedikit pula bentuk teatrikal ala ketoprak mewarnai rangkaian pergelaran ini. Garap iringan lebih kepada bentuk wayang orang, ada peran dalang pada jalan ceritanya.

Penyerahan piagam penghargaan oleh Kepala Taman Budaya Jatim Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M. kepada pimpinan Grup Tunas Sriwandowo, Dandy Indra Kusuma (Foto dok. TBJT)

Dalam khazanah budaya Jawa, Wayang Panji menempati posisi istimewa. Berbeda dengan wayang purwa yang mengangkat epik Mahabharata dan Ramayana, Wayang Panji menghidupkan kisah asli Jawa, yakni cerita Panji dari era Kerajaan Kadiri dan Jenggala. Kisahnya sarat dengan romantisme, petualangan, falsafah, dan refleksi manusiawi yang universal. Salah satu lakon yang paling terkenal dan penuh makna adalah perjalanan Galuh Candra Kirana sang permaisuri Panji Asmarabangun menjadi seorang dalang dalam lakon “Dalang Gambuh Asmarantaka”.

Dengan gaya busana dan iringan gamelan Jawa sebagaimana dalam Wayang Orang Mahabarata, Pergelaran Wayang (Orang) Panji ini menjadi unik dan menarik. Tokoh-tokohnya seperti Panji Inu Kertapati, Dewi Sekartaji (Candra Kirana), dan para punakawan seperti Bancak dan Doyok, mewakili nilai-nilai kesatriaan, kesetiaan, kecerdasan, dan keluhuran budi. Lakon-lakonnya seringkali bercerita tentang pencarian jati diri, ujian cinta, dan laku spiritual.

“Gambuh” merujuk pada nama seorang dalang (pencerita/pemimpin pertunjukan wayang) dari kalangan panakawan, yang kerap diasosiasikan dengan karakter cerdik, bijak, dan penuh kejutan. “Asmarantaka” sendiri berarti “jatuh cinta” atau “terbakar asmara”. Inti ceritanya berkisah tentang Dalang Gambuh yang, karena suatu peristiwa atau tugas dari sang Raja (biasanya Sri Kameswara atau sejenisnya), terlibat dalam pusaran kisah percintaan. Bisa jadi ia harus membantu pasangan kekasih (seringkali Raden Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji) yang terhalang rintangannya. Atau, dalam versi yang lebih menarik, Dalang Gambuh sendiri mengalami situasi asmarantaka, dihadapkan pada perasaan cinta atau godaan duniawi yang menguji kebijaksanaan dan integritasnya sebagai seorang pelayan dan penasehat.

Raden Panji Inu Kertapati berpamitan kepada kedua orang tuanya berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menjemput Galuh Candra Kirana calon istrinya (Foto dok. TBJT)

Lakon ini menggambarkan sosok Galuh Candra Kirana yang mempertahankan kesetiaan cintanya pada Panji Asmarabangun yang penuh dengan ujian hidup dengan menjalani laku sebagai seorang dalang gambuh. Sebelumnya nasib pilu menimpa Sang Dewi di kala Sang Ibu Tiri & saudarinya Galuh Ajeng, berencana ingin merebut golek kencana hadiah dari Panji Inu Kertapati sebagai tanda cinta. Galuh Candra Kirana pun diusir oleh ayahnya karena tidak mau mengalah untuk menyerahkan golerk kencana kepada adiknya, ia meninggalkan Kerajaan. Suasana menjadi kacau & membuat Prabu Lembu Merdadu semakin bingung dengan hari pernikahan yg semakin dekat namun calon pengantin wanita tidak ada. Dalam kisah pelarian Galuh Candra Kirana inilah sang putri sempat menyamar menjadi sosok Panji Semirang yang mampu mengalahkan calon suaminya dalam suatu pertarungan. Hingga menyamar sebagai seorang dalang gambuh yang mengungkap ketidak adilan ayahnya sendiri sehingga dia terusir. Pada akhirnya ayahnya sadar atas apa yang dikisahkan oleh sang dalang dan mengungkap siapa sang dalang yang sebenarnya.

Pergelaran Wayang Orang Panji “Dalang Gambuh Asmarantaka” merupakan karya seni total. Ia menawarkan tontonan yang indah secara visual (tari, kostum), auditori (gamelan, tembang), dan intelektual (filosofi, kiasan). Lakon ini mengajak penonton untuk tidak hanya terpana pada kisah cinta, tetapi juga merenungi makna di baliknya tentang kemanusiaan, kelemahan, dan kebijaksanaan yang sering kali datang dari tempat yang tak terduga. Dalam setiap gelak tawa yang dibangkitkan, terselip wejangan hidup yang dalam, membuatnya tetap relevan untuk dinikmati dan direnungkan hingga hari ini.

Galuh Candra Kirana yang menyamar sebagai seorang dalang gambuh menelanjangi ketidakadilan ayahnya sendiri ketika sang ayah menjamu calon besannya (Foto dok. TBJT)

Pergelaran Wayang panji ini dmainkan oleh grup Tunas Sriwandowo dari Kota Surabaya pimpinan Dandy Indra Kusuma. Didukung oleh 40 orang seniman yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya. Berlatar belakang seniman/seniwati, dosen, pekerja swasta dan mahasiswa. Antusiasme penonton untuk menyaksikan pergelaran ini luar biasa. Kapasitas Gedung Kesenian Cak Durasim yang berjumlah 412 kursi terisi penuh, bahkan penonton yang tidak kebagian tempat duduk disediakan tempat duduk di Pendapa Jayengrana dengan menyaksikan melalui video yang disender melalui layar lebar. Yang cukup menggembirakan adalah hampir 75 persen yang menyaksikan pergelaran ini adalah kalangan millenial. Ini menjadi bukti bahwa seni tradisi semakin diminati oleh anak-anak muda. (sn)  

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses