Suami Takut Istri : Dagelan Full Humor Yang Mengangkat Fenomena Sosial Rumah Tangga
Pergelaran dagelan bertajuk “Suami-Suami Takut Istri” yang digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur pada 11 Desember 2025, berhasil menyedot perhatian penonton dari berbagai kalangan. Dengan konsep komedi situasi yang ringan namun sarat sindiran sosial, pertunjukan ini berhasil mengocok perut sekaligus mengajak penonton berefleksi tentang dinamika hubungan suami-istri dalam budaya masyarakat kita.

Grup yang mengisi acara yakni Agus Kuprit CS. dari kabupaten Sidoarjo, dengan anggota: Agus Kuprit, Joned, Aji, Frida, Rika. Lakon ini mengisahkan satu keluarga dengan karakter suami-istri yang berbeda, namun terjebak dalam stereotip “suami takut istri”. Joned suami yang takut pada istrinya (Rika). Suami yang takut karena tidak punya pilihan ekonomi, dan suami yang takut karena terlanjur “terintimidasi” oleh sang istri. Konflik terjadi ketika Joned kedatangan keponakannya Frida yang membawa pakaian dalam yang rencananya akan diberikan kepada ibunya namun ditinggal sejenak di rumah Joned.
Ketika istri Joned tahu ada pakaian dalam berada di meja tamu langsung saja tuduhan diarahkan ke Joned bahwa dia telah selingkuh. Ketika Frida balik ke rumah pamannya dan mengakui bahwa oakaian dalam itu miliknya, kontan dia yang dituduh sebagai selingkuhan Joned. Di sini konflik yang seharusnya berada pada situasi tegang berubah menjadi lucu. Toh pada akhirnya konflik ditengahi oleh Agus Kuprit dan Aji dan kesalahpahaman bisa diatasi.
Kekuatan pertunjukan dagelan ini berada pada:
1. Chemistry Para Pemain: Chemistry antara para pemain, terutama pasangan suami-istri di atas panggung, terasa alami dan dinamis. Adegan-adegan improvisasi mereka menambah spontanitas dan tawa segar penonton. 2. Dialog yang Menohok tapi Lucu: Naskah ditulis dengan cerdas, menyelipkan kritik sosial tentang gender, budaya patriarki, dan ekspektasi masyarakat terhadap peran suami-istri, namun disampaikan dengan ringan dan mudah dicerna. 3. Seting dan Kostum yang Mendukung: Seting rumah tangga sederhana namun detail, serta kostum yang mencerminkan karakter masing-masing tokoh, membantu penonton masuk ke dalam atmosfer cerita. 4. Penyutradaraan yang Cekatan: Tempo pertunjukan terjaga dengan baik, tidak terlalu lambat atau terlalu tergesa-gesa. Adegan peralihan antar-keluarga diatur dengan lancar, menjaga fokus penonton.

Beberapa Catatan tentang pergelaran: Meski secara umum sukses menghibur, ada beberapa adegan yang terasa agak berlarut-larut, seperti adegan monolog Agus Kuprit yang sedikit mengurangi ritme komedi. Selain itu, meski tema “takut istri” adalah bahan komedi yang klasik, penonton mungkin mengharapkan sedikit lebih banyak terobosan atau sudut pandang baru yang lebih segar.
Pertunjukan ini berhasil mengangkat fenomena sosial yang sering dianggap tabu atau hanya jadi bahan ledekan, menjadi bahan refleksi yang serius namun tidak menggurui. Dalam balutan komedi, penonton diajak mempertanyakan: apa benar “takut istri” adalah bentuk kelemahan? Atau justru bentuk penyesuaian dan penghormatan dalam hubungan modern?
“Suami-Suami Takut Istri” adalah pertunjukan dagelan yang sukses menghibur sekaligus memberi ruang berpikir. Cocok untuk ditonton bersama pasangan, karena selain bisa tertawa bersama, juga bisa menjadi bahan diskusi menarik setelah pertunjukan usai. Dengan durasi sekitar 90 menit, pertunjukan ini padat, lucu, dan layak mendapat apresiasi. (sn)
