Artikel

Tentang Kepekaan Nada dan Kekuatan Olah Vokal yang Menjadi Kunci dalam Karya Mojhi

Oleh: Yudhistira Sugma Nugraha

Suasana latihan seketika menjadi ruang canda. Gelak tawa perlahan mulai mencairkan suasana yang tadinya khidmat dan penuh keseriusan. Bayangkan saja, di tengah-tengah suasana khidmat kemudian salah satu peraga bersuara dengan nada dasar yang tak karu-karuan (kata lain chaos). Sontak semua peraga menoleh padanya. Bukan karena ia berparas ganteng, dan berpakaian keren. Tetapi suaranya itu loo, tak jauh dari suara tikus yang kejepit pintu. Keras, melengking, nan semrawut begitu kiranya gambaran suara yang dikeluarkan olehnya. Yuddan sebagkai komposer pun ikut menertawainya lantaran suara tersebut. Menurut Yuddan, tidak mudah menyanyikan repertoar lagu pada karya ini. Karena setiap materi lagu yang disajikan memiliki orientasi wilayah nada yang berbeda-beda. Ada yang mengacu pada wilayah nada slendro dan ada juga yang pelog. Hal ini secara tidak langsung menguji seberapa kuat peraga karya Mojhi dalam menjaga nada dasar yang sudah disepakati dawal.

Bagi kebanyakan musisi, bermusik itu ya harus menggunakan instrumen musik. Namanya saja bermusik, sebisa mungkin ada satu atau dua instrumen yang harus dibunyikan atau dimainkan. Kelaziman itu seakan sudah menubuh pada musisi-musisi pada umumnya. Namun hal ini tidak berlaku pada konsep karya Mojhi. Yuddan melepaskan karyanya dari acuan bunyi-bunyi yang sudah mapan laiknya instrumen gamelan dan sebagainya. Lantas apakah mungkin peraga karya Mojhi  ini mampu melakukan repertoar lagunya secara apik tanpa ada acuan nada dasar dari sebuah instrumen satupun? Dengan raut wajah yang sumringah, Yuddan mengatakan bahwa “ini tantangan bagi saya dan teman-teman, bagaimana kami dapat menyajikan repertoar lagu itu tanpa harus mengacu pada instrumen gamelan satu pun. Namun, di sini saya sangat yakin dengan peraga karya ini yang memiliki basis titilaras yang cukup baik, sehingga ketakutan akan suara blero (sumbang) dapat diminimalisir dalam karya ini, meskipun saya sendiri terkadang juga bersuara blero”.  

Perlu diketahui sebelumnya, peraga karya Mojhi ini mayoritas adalah mahasisiwa Jurusan Karawitan yang menumpuh studi di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika (STKW) Surabaya. Jadi tidak heran apabila sang komposer sangat yakin pada para peraga karya ini, oleh karena mereka sudah memiliki basis kepekaan nada yang baik. Terlebih dalam proses perkuliahan, mereka juga sudah memperoleh matakuliah titi laras. Di mana matakuliah ini merupakan tempat ditempanya mahasiswa jurusan Karawitan dalam hal kepekaan akan nada-nada utamanya pada instrumen gamelan.

Berbekal kepekaan nada itu, materi sajian karya Mojhi satu per-satu mulai dikuasai. Peraga dan sang komposer pun sudah mulai terbiasa dengan acuan nada yang disepakati. Namun bukan berarti kesulitan dalam membangun harmoni suara vokal berjalan mulus begitu saja. Terkadang ada materi yang harus dinyanyikan berulang-ulang untuk menemukan harmoni suara yang dikehendaki. Pada momen inilah biasanya peraga mulai merasakan tenggorokan mengering dan suara pun perlahan mulai menghilang. Aduh, sepertinya waktunya untuk minum jahe anget di kantin Pak Satim kawan,  semangat…

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.