Berita

Peringati HUT Taman Budaya Jatim Ke-46 Dengan Ziarah Ke Makam Cak Durasim

Taman Budaya Jawa Timur memasuki usia yang ke-46 di tahun 2024 ini. Berdiri pada 20 Mei 1978 secara serentak di seluruh Indonesia Taman Budaya menjadi ujung tombak pemajuan kesenian di tiap-tiap provinsi yang ada di Indonesia kala itu. Tercatat ada 27 Taman Budaya se-Indonesia yang berdiri secara serentak. Pada awal abad ke-21 Taman Budaya dialihkan pengelolaannya ke tiap provinsi yang menjadi tempat Taman Budaya berdiri. Ada provinsi yang tetap mempertahankan keberadaan Taman Budaya namun ada juga beberapa provinsi yang meleburkan Taman Budaya ke dalam satu institusi yang masih serupa dalam tugas pokok fungsinya.

Pembacaan doa di pusara alm. Cak Durasim (Foto dok. TBJT)

Taman Budaya Jawa Timur termasuk di antara salah satu yang tetap mempertahankan keberadaanya sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT). Pada awalnya bergabung dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan kemudian bergabung dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hingga saat ini. keberadaan Taman Budaya Jawa Timur sebagai sebuah institusi yang menangani kegiatan kesenian telah banyak mewarnai perjalanan kehidupan seni di Jawa Timur. Tak hanya sebatas menggelar kesenian, tapi juga ada pameran seni, pendokumentasian seni dan berbagai workshop, seminar, diskusi yang melibatkan seniman seniman Jawa Timur.

Masih menjadi tugas yang harus diemban oleh Taman Budaya Jawa Timur dalam upaya meningkatan apresiasi kesenian pada kehidupan masyarakat secara terus menerus, dan ini membutuhkan dukungan dari seluruh masyarakat, begitu pun oleh para akedemisi, mahasisiwa dan penggiat seni sendiri, baik itu yang lebih terkait pada persoalan psikologis, yaitu melakukan proses yang harus selalu berkesinambungan.

Pada peringatan ulang tahunnya yang ke-46 ini pimpinan, dan  staf Taman Budaya Jawa Timur beserta seniman mengadakan ziarah ke makam Cak Durasim yang berada di Makam Islam Tembok Gede di kawasan Bubutan Surabaya. Semasa hidupnya sosok bernama asli Gondo Durasim ini dikenal sebagai seniman ludruk. Melalui kepiawaian Cak Durasim, seni tak sekedar menjadi hiburan semata, tapi juga dirubah menjadi media pembakar jiwa nasionalisme.

Tabur bunga ke pusara alm. Cak Durasim oleh Kepala Taman Budaya Jawa Timur Ali Ma’rup, S.Sos., M.M. (Foto dok. TBJT)

Melalui parikannya yang terkenal yakni: “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro”, Cak Durasim terus menyuarakan semangat anti penjajah Jepang yang kala itu menduduki Surabaya. Karena berada dalam penjajahan Dai Nipon, penderitaan rakyat malah semakin menjadi-jadi. Sindiran berbentuk parikan yang disuarakan dari panggung ke panggung itu memicu amarah tentara Jepang. Tindakan Cak Durasim yang penuh keberanian itu akhirnya membuatnya terbunuh oleh bala tentara Jepang. Cak Durasim meninggal pada 7 Agustus 1944. Untuk mengenang kisah kepahlawanannya, namanya diabadikan menjadi nama Gedung Kesenian yang berada di Taman Budaya Jawa Timur yakni Gedung Kesenian Cak Durasim.

Pelaksanaan ziarah dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2024 pukul 14.00 WIB., karena bersamaan dengan diselenggarakannya Festival Kresnayana dari Kabupaten Blitar yang diselanggarakan pada 18 Mei 2024 sehingga tidak dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 20 Mei. Dari ritual ziarah ke makam Cak Durasim ini menjadi semacam perenungan sekaligus harapan bahwa Semangat perjuangan Cak Durasim diharapkan menjadi penyemangat untuk semakin meningkatkan pemajuan kesenian di Jawa Timur. Juga dirasa tepat untuk senantiasa mengingatkan terutama pimpinan dan staff Taman Budaya Jawa Timur, Seniman dan generasi muda saat ini untuk tidak terlena dengan pengaruh budaya barat yang masuk sebagai dampak kemajuan teknologi informasi yang sulit disaring. (pr)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.