Pergelaran

Wayang Jawatimuran Tak Pernah Mati

Pekan Wayang Jawa Timur 2022 yang diselenggarakan oleh Taman Budaya jawa Timur pada hari ke-4 menampilkan dua dalang anak dari Kabupaten Mojokerto. Kedua bocah tersebut membawakan pergelaran Wayang Kulit Anak Gagrag Jawa Timur atau yang lebih dikenal dengan Wayang Jekdongan. Diselenggarakan di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur pada Jum’at, 4 November 2022 pukul 15.00 s/d. selesai.

Dalang cilik Arga Putra Nugraha siswa SMPN 1 Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto (Foto dok. TBJT)

Penampilan pertama dibawakan oleh dalang cilik Arga Putra Nugraha Pratama dari SMP Negeri 1 Dawar Blandong Kabupaten Mojokerto dengan membawakan lakon “Sang Anjilo”. Lakon tersebut pada prinsipnya hampir sama dengan lakon “Anoman Obong” pada cerita Ramayana. Anjilo tak lain adalah Anoman putera Dewi Anjani. Sementara dalang cilik kedua yang tampil adalah Mohammad Sabiq Khoiron, murid SD Negeri Banyulegi Kabupaten Mojokerto yang membawakan lakon “Senopati Pinilih” yang mirip dengan lakon “Kikis Tunggarana”.

Walau secara teknis baik olah sabet, antawacana, suluk kedua dalang anak itu masih perlu diasah lagi, namun kemauan dan kecintaan mereka pada Wayang Kulit Gaya Jawatimuran kemudian memainkannya dihadapan khalayak patutlah jempol dua diacungkan pada mereka berdua. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bila Wayang Jekdongan itu masih terus lestari hingga saat ini.

Bagi yang tak tahu akan perkembangan wayang terutama di Jawa Timur mungkin tak percaya bila membaca judul diatas, barangkali wayang dianggap kesenian pinggiran yang hanya orang tua saja yang menyukainya. Namun nyatanya tidak demikian, Wayang kulit gagrag Jawatimuran justru tumbuh subur di kawasan Jombang, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang dan Blitar bagian timur. Proses regenerasi terus berlangsung, dalang-dalang muda yang mulai terjun menekuni profesi mendalang nyatanya selalu laku di pasaran.

Dalang cilik Mohammad Sabiq Khoiron SD Negeri Banyulegi Kabupaten Mojokerto (Foto dok. TBJT)

Pembelajaran sebagai kurikulum utama pelajaran Wayang Gagrag Jawatimuran menjadi mata pelajaran utama di SMKN 12 Surabaya yang merupakan satu-satunya sekolah kejuruan seni yang ada di Jawa Timur. Namun tak sedikit pula anak-anak yang menekuni pendidikan pedalangan lewat jalur non formal yakni dengan cara belajar langsung kepada para dalang senior di atasnya. Atau bisa juga karena seorang ayah yang berprofesi dalang menurunkan ilmu pedalangannya kepada sang anak.

Apalagi dikuatkan dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata yang selalu mengadakan Festival Dalang mulai tingkat anak sampai dewasa dalam setiap tahunnya. Menjadikan Wayang Gagrag Jawatimuran terus lestari hingga saat ini sebagaimana pohon yang menumbuhkan tunas ketika mendekati masa akhirnya tiba. Dalang-dalang sepuh yang sudah tak kuat mendalang atau meninggal senantiasa tergantikan bibit-bibit baru yang terus tumbuh silih berganti. Maka tak salah bila dikatakan “Wayang Jawatimuran Tak Pernah Mati”. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.